Nomaden Series - Semua Tentang Slow Traveling

Diperbarui: Jan 10

Melalui "Nomaden Series" ini, Tukang Bolang BuLiBi berbagi pengalaman, informasi, dan tips slow traveling. Bagaimana caranya traveling fulltime sambil kerja santai? Apa manfaatnya? Jadi subscriber website BuLiBi agar tidak ketinggalan materi terbaru setiap minggunya!

Nomaden Series (c) Arakita Rimbayana

Liburan, jalan-jalan, traveling, apa pun namanya, setiap orang punya cara masing-masing mengunjungi suatu tempat, baik itu di dalam kota, luar kota, maupun luar negeri (atau bahkan luar angkasa suatu hari nanti?). Saya sendiri memilih slow traveling atau nomad. Cara traveling yang satu ini biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan di suatu tempat. Banyak yang mengira saya jalan-jalan tiap hari. Padahal saat slow traveling, kamu tidak perlu jalan-jalan setiap hari dan setiap saat. Kalau ada waktu dan biayanya, silakan. Tapi sempatkan diri bercengkrama dengan penduduk setempat juga. Saya sendiri biasa "jalan-jalan" hanya 1-2 kali dalam seminggu. Sisanya saya habiskan untuk bekerja dan jalan kaki di sekitar kawasan tempat tinggal.


Kamu mungkin sudah familiar dengan istilah "digital nomad" yang awalnya dibawa bule-bule yang liburan santai di Bali. Saking santainya, banyak orang mengira para bule digital nomad tersebut murni hanya liburan di Bali. Padahal, mereka kerja. Mereka punya pekerjaan. Bahkan, sebagian waktu liburannya di Bali, mereka habiskan untuk bekerja. Mungkin di pagi hari dia kerja sampai sore, kemudian menjelajah Pulau Bali di malam hari. Atau sebaliknya, seharian mereka jalan-jalan, baru mulai bekerja di malam hari. "Kok bisa? Atur waktu kerja sendiri?" Ya. Itulah enaknya kerja freelance atau lepasan dan tidak terikat jam kerja.


Percaya ga kalau saya bilang kamu juga bisa seperti mereka? Bukan cuma bule saja yang bisa jadi digital nomad dan asyik slow traveling. Orang Indonesia juga bisa. Harus punya duit banyak? Tidak. Tabungan banyak? Tidak juga. Kuncinya hanya satu: perencanaan yang matang.


Sebelum saya bahas pengalaman saya sebagai digital nomad dan bagaimana caranya, saya coba jawab dulu pertanyaan-pertanyaan yang kerap harus saya jawab dari rekan-rekan traveler.

  1. Kenapa pilih slow traveling?

  2. Berapa lama saya tinggal di satu tempat?

  3. Bagaimana mengurus izin tinggalnya?

  4. Traveling sendiri atau bareng teman-teman?

  5. Berani traveling sendirian?

  6. Bagaimana caranya untuk mulai traveling?

  7. Kerja atau liburan?

  8. Kerja apa kok bisa slow traveling?

1. Kenapa pilih slow traveling?

Buat saya, traveling bukan sekedar foto di depan bangunan A, makan sepiring B, dan bawa pulang C sebagai oleh-oleh. Traveling adalah jendela menuju dunia lain. Melalui traveling, kita bisa mengenal budaya lain, bukan hanya hal-hal yang mereka tampilkan melalui jendela pariwisata. Saya suka naik transportasi umum (bukan taksi), belanja di pasar setempat, dan makan di warung lokal. Singkat kata, melalui slow traveling, saya mencoba hidup seperti orang lokal. Menurut saya, itu satu-satunya cara untuk benar-benar memahami budaya suatu tempat. Kalau kamu tertarik untuk mendalami persoalan ini lebih jauh, bisa baca artikel yang saya tulis: Tips Liburan #2: Pentingnya Liburan Ala Orang Lokal.


2. Berapa lama saya tinggal di satu tempat?

Biasanya, saya tinggal di satu tempat (kota atau negara) selama minimal 3 (tiga) bulan karena kebanyakan negara memperbolehkan turis untuk tinggal selama maksimal 90 hari.


3. Bagaimana mengurus izin tinggalnya?

Saya cenderung memilih negara bebas visa. Negara bebas visa di sini adalah negara-negara yang memperbolehkan pemegang paspor Indonesia untuk berkunjung sebagai turis tanpa mengajukan visa terlebih dahulu. Cukup cap masuk dan keluar di paspor. Dan cap ini kamu dapatkan gratis saat masuk dan keluar melalui petugas imigrasi di bandara.


Beberapa negara lain yang pernah saya tinggali hanya memperbolehkan saya tinggal selama 30 hari, seperti Thailand misalnya. Kalau kamu butuh lebih banyak waktu di negara-negara tersebut, kamu perlu mengajukan perpanjangan atau visa khusus. Untuk Thailand, kamu bisa baca detail cara mengajukan visa untuk tinggal lebih dari 30 hari di sini: Apply Visa Thailand.


4. Traveling sendiri atau bareng teman-teman?

Saya pribadi lebih suka traveling sendiri, karena saya bisa menentukan mau kemana dan bagaimana dengan bebas. Tentunya traveling dengan teman-teman lebih aman. Karenanya banyak juga digital nomad yang traveling bareng-bareng dari satu negara ke negara lain.


5. Berani traveling sendirian?

Sebagai perempuan, pertanyaan ini sering sekali dilontarkan rekan-rekan, keluarga, atau bahkan orang asing yang baru saya temui. Saya tidak menyarankan kamu - baik perempuan, laki-laki, maupun non-binary - untuk traveling sendirian atas alasan keamanan. Saya berani karena saya sudah sering pindah pulau dan tinggal sendiri saat bekerja di Indonesia. Selain itu, saya berbekal ilmu bela diri dan saya bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Tanpa tiga hal ini, traveling sendirian bisa jadi lebih sulit, meskipun tidak mustahil.


6. Bagaimana caranya untuk mulai traveling?

Kalau ini kali pertamamu, sebaiknya mulai dari kota-kota di Indonesia dulu. Kalau kamu tinggal di Jakarta, coba slow traveling di Bali selama beberapa bulan. Kemudian, coba pulau lainnya. Biasakan diri dengan perubahan dan adaptasi dengan budaya baru.


Untuk luar negeri, mulai dari negara-negara ASEAN. Selain merupakan negara bebas visa, jaraknya yang dekat dari Indonesia memudahkan kamu untuk pulang, jaga-jaga ada keperluan mendadak atau alasan lain yang mengharuskan kamu untuk pulang. Tidak menutup kemungkinan kamu berubah pikiran dan memilih untuk pulang di tengah perjalanan, kan?


Saya mulai slow traveling di Da Nang, Vietnam. Kemudian Chiang Mai, Thailand. Dua negara ini membantu saya menyiapkan mental untuk mulai menjelajahi Amerika Latin.


7. Kerja atau liburan?

None of the above. Kalau dibilang kerja, bukan. Karena saya tidak kerja kantoran di negara-negara yang saya kunjungi. Saya tidak digaji atau diberi upah di tempat-tempat tersebut. Kalau dibilang liburan, juga bukan. Karena saya tidak selalu jalan-jalan ke sana kemari seperti orang-orang yang sedang liburan pada umumnya.


Saya tinggal di negara-negara tersebut seperti layaknya penduduk lokal. Hanya saja, saya menggunakan paspor Indonesia, bukan kartu identitas penduduk setempat.


8. Kerja apa kok bisa slow traveling?

Saya menulis artikel-artikel dalam Bahasa Inggris untuk beberapa website, kebanyakan bertemakan traveling, tapi ada juga yang murni SEO. Selain itu, saya juga bekerja sebagai penerjemah untuk suatu badan usaha di Indonesia, di samping proyek-proyek lepasan lainnya yang repeat order. Intinya, kalau ada proyek yang bisa saya handle, ya saya ambil.


Meskipun status saya freelance atau karyawan lepas, saya punya strategi agar pendapatan saya tetap dan tidak terlalu jauh naik-turunnya dari satu bulan ke bulan berikutnya. Hal ini saya bahas di Tips Liburan #3: Kerja Freelance Biar Bisa Liburan Kapan Saja. Dan akan saya bahas lebih rinci lagi di Freelance 101 (bahasan selanjutnya).

First Thing First

Saat menulis pos ini, saya sedang berada di Medellin, Kolombia. Hampir setengah permukaan bumi jauhnya dari Indonesia. [Untuk kamu yang penasaran soal pengajuan visa dan proses imigrasi ke Kolombia bisa klik di sini untuk baca lebih lanjut.] Saya bukan lulusan S1, S2, S3. Satu-satunya S yang saya pernah pegang ya S teler. Saya cuma bermodalkan ijazah SMA dan saya bukan orang kaya. Tapi harap dicatat, saya tidak sekedar bermodalkan nekat untuk terbang ke sini. Semua saya jalani dengan perencanaan yang matang.


Sebelum berangkat ke Medellin, saya sudah pesan tiket, apartemen di Airbnb untuk 1-2 bulan ke depan, dan cari tahu segala hal yang akan saya hadapi di Medellin. Mulai dari transportasi umum sampai pasar terdekat untuk beli bahan makanan, semua harus sudah kamu rencanakan sebelum berangkat.


Sekian Nomaden Series minggu ini, teman BuLiBi. Terima kasih sudah membaca. Dan sampai ketemu di bahasan Nomaden Series selanjutnya ya! Silakan share artikel ini jika dirasa bermanfaat bagi teman-teman dan keluarga. Sekedar info, berikut rencana bahasan tips yang akan saya ulas setiap minggunya. Tautan akan saya sediakan setelah artikelnya terbit.

  1. Freelance 101 - Bagaimana cara memulai kerja freelance dan apa saja yang harus kamu ketahui. Sub-series ini akan jadi bahasan utama kita di Nomaden Series. Dan jika teman BuLiBi ada ide, atau pertanyaan, akan saya bahas lebih lanjut.

  2. Airbnb 101 - Bagaimana cara dapat penginapan yang jauh lebih murah dari hotel.

  3. Flying 101 - Tips dan informasi untuk kamu yang baru pertama kali terbang ke luar negeri. Apa saja yang bisa kamu bawa ke kabin dan di bagasi.

  4. Immigration 101 - Tips untuk lancar pengecekan imigrasi di bandara. Pertanyaan-pertanyaan soal pengajuan visa juga akan saya bahas di sini.

  5. Safety 101 - Do's and Don'ts liburan di kota-kota yang terkenal tidak aman (seperti Medellin, Kolombia)

  6. Everything Else 101 - Topik-topik lain coming soon! Kalau kamu ada ide, silakan tulis di bagian komentar di bawah ya!

(c) BuLiBi


Baca juga:

Tips Liburan #1: Ke Negara Bebas Visa

Tips Liburan #3: Kerja Freelance Biar Bisa Liburan Kapan Saja

Tips Liburan #4: Cari Makanan Halal Di Luar Negeri


360 tampilan0 komentar
  • Facebook

©2019 by Bulibi