7 Spot Kejayaan Kerajaan Minangkabau yang Bisa Kamu Kunjungi

Nama Minangkabau itu sendiri adalah sebuah kerajaan yang cukup terkenal: Kerajaan Minangkabau. Simak ceritanya di sini!

Kerajaan Minangkabau (Image by Ozant Liuky from Pixabay)

Ondeh mandeh, rancak bana!


Kalau Teman BuLiBi pernah dengar istilah di atas, pasti tahu dong itu bahasa apa? Minangkabau! Benar sekali! Selain dikenal dengan makanan dan warung makan padangnya, ternyata nama Minangkabau itu sendiri adalah sebuah kerajaan yang cukup terkenal. Beberapa bukti sejarahnya pun masih terawat dan dapat dikunjungi.


Kali ini kami akan membahas mengenai 7 spot kejayaan Kerajaan Minangkabau yang bisa kamu kunjungi untuk mengisi waktu liburanmu. Berwisata sambil menambah pengetahuan sejarah budaya Indonesia tentu akan menjadi hal yang mengasyikkan sekaligus menambah wawasan. Namun, sebelum kita bahas tempat-tempat bersejarah di Minangkabau, ada baiknya kita ulas sedikit mengenai salah satu kerajaan besar di Nusantara ini.


Sekilas tentang Kerajaan Minangkabau

Kerajaan Minangkabau atau yang lebih dikenal dengan nama Kerajaan Pagaruyung oleh masyarakat lokal merupakan kerajaan di Sumatera yang wilayahnya termasuk kedalam Provinsi Sumatera Barat sekarang. Untuk wilayah kekuasannya sendiri, Kerajaan Minangkabau meliputi Sumatera Barat, Bengkulu, Sumareta Selatan, Jambi, dan Semenanjung Malaka (Malaysia bagian Timur). Tidak heran jika di wilayah Sumatera bagian tengah sangat banyak perantau Minang di sana. Cobalah berkunjung ke Batam atau Pekanbaru, Teman BuLiBi bisa menemukan penduduk setempat menggunakan Bahasa Melayu dan Bahasa Minang di kesehariannya.


Nah, selanjutnya akan kita bahas beberapa spot kejayaan Kerajaan Minangkabau yang masih dapat dilihat sampai saat ini.



Istano Basa Pagaruyuang

Lokasi yang sudah tentu wajib kalian kunjungi jika ingin tahu seluk beluk Kerajaan Minangkabau. Bagaimana tidak, Istana yang terletak di Batu sangkar, Kabupaten Tanah Datar ini menyimpan begitu banyak sejarah dan peninggalan yang masih dapat kita lihat sampai saat ini. Istana Basa Pagaruyung ini sudah beberapa kali terbakar habis akibat tersambar petir. Saat ini, bangunan yang berdiri gagah ini bisa dikatakan sebagai replika dari bangunan aslinya. Bangunan aslinya sendiri berada sedikit ke selatan dari bangunan ini.


Teman Bulibi akan menemukan keindahan di setiap sisi bangunan istana ini. Setiap sisinya dihiasi ornament ukiran warna warni yang jika dihitung secara total, ada 58 jenis motif ukiran yang menghiasi istana ini.


Di area istana ini kamu bisa menyewa pakaian adat, dan berfoto di spot-spot yang Minangkabau banget! Selain itu, kamu juga bisa menikmati keindahan alam dari atas Bukit Bungsu yang ada di belakang area istana. Kamu bisa mengunjungi istana ini setiap hari, mulai jam 06.00 pagi sampai 18.00 sore. Untuk tiket masuknya sangat murah dan terjangkau, mulai dari Rp15.000 untuk dewasa, Rp7.000 untuk anak-anak, dan Rp25.000 untuk turis Internasional.


Menikmati keindahan bangunan istana sekaligus mempelajari sejarah Minangkabau adalah hal yang bisa kamu lakukan saat liburan di Sumatera Barat!



Batu Batikam

Kalau di luar negeri ada legenda Excalibur, batu yang tertancap pedang dan hanya bisa ditarik oleh Raja Arthur, di Indonesia juga punya cerita yang tidak jauh beda, yaitu Legenda Batu Batikam. Secara bahasa memang sudah jelas maknanya adalah batu yang tertikam. Teman BuLiBi bisa melihat jejak/lubang yang konon merupakan bekas tusukan keris Datuak Parpatiah nan Sabatang di batu ini. Selain itu di lokasi ini dulunya merupakan sebuah Medan nan Bapaneh atau tempat bermusyawarah para kepala suku.


Kamu akan menemukan sensasi menenangkan dan damai saat dalam perjalanan ke cagar budaya yang satu ini. Batu Batikam ini berada di Jorong Dusun Tuo, Nagari Limo Kaum, Tanah Datar Sumatera Barat. Kawasan ini berada dalam pengawasan Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumba, Riau dan Jambi.



Nagari Tuo Pariangan

Bisa dikatakan Nagari Pariangan adalah nagari tertua atau desa pertama dari Minangkabau. Bagi beberapa wisatawan yang telah berkunjung ke sini, keindahannya dapat disejajarkan dengan desa Niagara On the Lake di Kanada.


Nagari ini berada di Lereng Gunung Marapi, Tanah Datar Sumatera Barat. Lokasinya terletak sekitar 95km dari Kota Padang atau 35km dari Bukittinggi. Di sini kamu dapat menikmati keindahan alam yang mempesona, hamparan sawah yang subur dan pepohonan yang rimbun. Selain itu banyak sekali Rumah Gadang (rumah adat Minangkabau) yang dibangun menyesuaikan kontur lereng Gunung Marapi. Masjid tertua di Minangkabau juga terdapat di nagari ini.


Jika kedamaian dan ketenangan adalah yang paling kamu cari pada liburan kali ini, Nagari Tuo Pariangan adalah pilihan yang sangat tepat!



Nagari 1000 Rumah Gadang

Nagari ini dinobatkan sebagai Kampung Adat Terpopuler di tahun 2017. Bagaimana tidak, sejauh mata memandang yang akan kamu temukan adalah deretan rumah adat dengan gonjong yang menjulang tinggi. Nagari yang berada di Kecamatan Sungai Pagu, Solok Selatan ini menghadirkan suasana masa lampau dimana Rumah Gadang menjadi sebuah kebanggaan suku / keluarga di sana.


Para sineas film seringkali mengambil lokasi ini untuk syuting layar lebar dan film televisi, disamping akses yang mudah, masyarakat setempat juga antusias dengan banyaknya wisatawan yang datang ke daerah ini. Dengan begitu, maka masyarakat luas akan semakin mengetahui Nagari yang begitu indah ini.


Rumah-rumah Gadang di nagari ini cukup terawat dengan baik. Pemerintah Provinsi pun serius menjadikan kawasan ini sebagai kawasan wisata adat yang menjadi prioritas sejak tahun 2013. Bagi Teman Bulibi yang memiliki keinginan untuk berkunjung ke Sumatera Barat, pastikan Nagari ini masuk ke dalam list liburanmu ya!



Balairuang Sari Tabek

Kalau kamu penasaran dimana asal muasal terbentuknya gonjong Rumah Adat Minangkabau yang megah menjulang, maka Balairuang ini adalah tempat yang tepat untuk kamu datangi. Tanah Datar Balairuang Sari tabek ini masih berada di area Pariangan. Para sejarawan dan peneliti menyimpulkan bahwa Balairung ini adalah prototype dari gonjong Rumah Gadang yang sering kita temui di Rumah Adat atau rumah makan Padang.


Kamu bisa memsuki area ini secara gratis. Bangunan ini sudah berdiri kurang lebih sejak 300 tahun yang lalu. Dulunya bangunan ini dimanfaatkan oleh para penguhulu dan tetua adat untuk bermusyawarah. Bangunan ini sengaja dibangun tanpa dinding sehingga rapat tersebut dapat diikuti oleh masyarakat luas. Balairung ini menjadi lambang harmoni bermusaywarah yang dipegang teguh oleh masyarakat Minangkabau.


Saat ini bangunan ini masih digunakan oleh masyarakat adat untuk bermusyawarah. Saat sore hari tiba, kamu bisa melihat banyak anak-anak yang bermain di area Balairung.



Mahat, Nagari 1000 Menhir

Bukti peninggalan sejarah bisa hadir dalam bentuk apapun, termasuk Menhir yang bisa kamu temukan di Nagari Mahat, Bukti barisan, Lima Puluh Kota ini. Di sini kamu tidak hanya melihat 1-2 menhir, melainkan ribuan!


Menhir sendiri adalah batu-batu yang diukir dan berisi bukti sejarah nenek moyang pada zaman dahulu. Sesuai Tambo Minangkabau, menhir ini adalah penanda adanya aktivitas masyarakat di daerah tersebut. Menhir-menhir ini selain berfungsi sebagai penanda, ada juga yang digunakan sebagai panggung tempat musyawarah tetua adat. Ada pula yang berbentuk sebagai makam.


Menhir ini diperkirakan sudah ada semenjak ribuan tahun yang lalu. Bahkan jauh sebelum Masyarakat Minangkabau mengenal gonjong rumah adatnya sendiri. Percaya atau tidak, menhir yang berada di sini semuanya menghadap ke satu arah, yakni menuju Gunung Sago, lho.



Museum Adityawarman

Museum Adityawarman memang bukanlah peninggalan kerajaan Minangkabau, melainkan sebuah tempat yang didirikan pada tahun 1977 oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Tapi jangan salah, di museum ini kamu bisa menemukan berbagai macam jenis koleksi purbakala, sejarah, budaya, senirupa dan lainnya dari Kerajaan Minangkabau yang dikumpulkan dari berbagai daerah di Sumatera.


Selain barang / koleksi peninggalan zaman dahulu, di museum ini juga terdapat beberapa spot yang menampilkan budaya Minangkabau, seperti ruang peragaan pernikahan adat Minang dan kehidupan masyarakat Minang tempo dulu.


Selain Suku Minang, di museum ini juga terdapat koleksi sejarah Suku Mentawai. Ya, walaupun memiliki adat yang berbeda dengan Minangkabau, namun masih dalam wilayah yang sama yakni di Sumatera Barat. Museum ini buka di hari Selasa – Minggu jam 08.00 – 15.00. Tiket masuknya luar biasa murah, yaitu hanya Rp2.000 rupiah untuk dewasa dan Rp1.000 untuk anak-anak.

.

Tentu Teman Bulibi sudah mengetahui beberapa spot yang dapat dikunjungi saat mengnjakkan kaki di Ranah Minang. Pastinya berwisata sembari mengenal lebih jauh budaya setempat akan menambah wawasan serta kecintaan kita pada Indonesia. Salah satu wawasan yang masih belum banyak diketahui orang adalah informasi terkait sejarah Kerajaan Minangkabau. Dengan berkunjung ke tempat-tempat di atas, kamu bisa belajar lebih banyak tentangnya.


Yuk, siapkan dirimu untuk menjelajahi Indonesia!

(c) BuLiBi - [Kontributor: Alif | Editor: Karina Ovelia]


Suka dengan artikel ini? Silakan share ke media sosialmu!


Baca juga:

Wajah Baru Lembah Harau Payakumbuh

Tempat Wisata di Sumbar Mana yang Harus Kamu Tuju?

6 Negara Asia Yang Aman Untuk Solo Traveling Setelah Pandemi


#bulibi #bukanliburanbiasa #tipsliburan #kerajaanminangkabau

  • Facebook

©2019 by Bulibi