Hasil Pencarian
153 hasil ditemukan
- Apply Visa Thailand: Bukan Liburan Biasa Ke Negeri Gajah Putih
Ada rencana liburan ke Phuket dan sekitarnya? Cari tahu cara apply visa Thailand dulu! Baca ulasan lengkapnya di sini. Pantai pasir putih, makanan eksotis, dan budaya tradisional ada di Indonesia, tapi kenapa tiap tahun para wisatawan (termasuk orang Indonesia) berbondong liburan ke Thailand? Alasannya sama seperti kenapa kita lebih memilih jalan-jalan ke kota sebelah dibandingkan di kota sendiri, atau kenapa kita makan di warung ketimbang masak sendiri: sesuatu yang terasa beda. Meskipun masakannya sama-sama ayam goreng, bahkan dengan resep yang sama, bisa terasa beda di lidah kita. Itulah kenapa liburan ke pantai Phuket, misalnya, lebih menarik daripada ke pantai di Bali untuk beberapa orang. Di awal tahun 2019, tim BuLiBi berkesempatan untuk bukan liburan biasa ke Thailand. Mengusung slogan kita yang mengedepankan liburan unik, kita memilih kota yang kurang terkenal di Thailand: Chiang Mai. Dan kita singgah di sini selama lebih dari dua bulan. Kok bisa tinggal di Thailand sampai dua bulan? Bisa! Sebagai pemegang paspor Indonesia, kita boleh masuk ke Thailand selama 30 hari, GRATIS, dengan catatan kamu harus masuk via bandara internasional. Kalau teman BuLiBi berencana masuk Thailand lewat darat, misalnya naik bus dari Kamboja, cuma bisa tinggal 15 hari. Nah kemudian, izin tinggal ini bisa diperpanjang di kantor imigrasi Thailand, tanpa dipungut biaya apapun. Sebelum kita bahas cara apply visa Thailand secara mendalam, perlu kami sampaikan bahwa setiap negara punya aturan visa masing-masing yang bisa mereka ubah kapan saja, dan Thailand ini termasuk negara yang sering berubah kebijakan visanya. Di pertengahan tahun 2019, tim BuLiBi masuk ke Thailand dari Vietnam. Karena kami berencana merayakan festival Song Kran di bulan April, izin tinggal 30 hari saja tidak cukup. Jadi, kami mengajukan izin tinggal 90 hari. Saat itu, peraturannya kita hanya bisa mengajukan maksimal 60 hari dan kemudian diperpanjang 30 hari lagi di kantor imigrasi Thailand. Berangkatlah kami ke Kedutaan Thailand di Kota Ho Chi Minh, Vietnam. Prosesnya cukup mudah, kamu tidak perlu buat janji. Cukup bawa berkas-berkas, isi beberapa formulir, serahkan paspor, pas foto ukuran 4X6, dan bayar biayanya dalam USD (waktu itu kami dikenakan biaya 45 USD per orang). Harap diingat ya, teman BuLiBi, kebijakan ini bisa berubah kapan saja. Sebaiknya kunjungi website resmi imigrasi Thailand terlebih dahulu sebelum apply visa. Pengalaman aneh apply Visa Thailand Dari proses apply visa, kami hanya perlu menunggu tiga hari kerja untuk mengambil paspor yang sudah ditempeli visa Thailand. Sejauh ini tidak ada yang aneh, ya? Satu kejanggalan muncul saat kami cek tanggal berlaku visa di paspor kami. Umumnya, visa berlaku per tanggal visa diberikan, tapi visa Thailand yang kami pegang berlaku per tanggal apply visa. Oke, mungkin visa kami dicetak di hari yang sama dengan hari pengajuan, but this is highly unlikely. Kejanggalan kedua muncul pada tanggal habis masa berlaku visa. Di peraturan imigrasi yang kami baca online, tertera bahwa maksimal masa berlaku visa yang bisa diajukan adalah 60 hari (yang kemudian diperpanjang menjadi 90 hari). Tetapi kami langsung dapat 90 hari! Saat itu kami justru bersyukur karena ini berarti kami tidak perlu repot perpanjang visa. Little did we know, ternyata ini akan jadi masalah saat mendarat di Thailand. Landing di Bandara Internasional Chiang Mai Sebelum landing, para pramugari membagikan kertas formulir yang harus diisi dengan lengkap sebelum masuk proses pengecekan imigrasi. Yang perlu diperhatikan, selain data pribadi, adalah nomor visa dan data hotel tempat menginap. Dalam foto di atas, kamu bisa lihat nomor visa di atas ibu jari tim BuLiBi (D629...). Dan untuk data hotel, harus jelas, alamat di mana, nama hotelnya apa. Kalau kamu memesan akomodasi via Airbnb, yang notabene bukan hotel resmi, pastikan untuk mencantumkan nama dan nomor telepon tuan rumah. Proses ini cukup repot. Dari pengalaman pribadi, tim BuLiBi harus menjelaskan panjang lebar kepada petugas imigrasi apa itu Airbnb dan bagaimana sistemnya. Dari situ tim BuLiBi sudah gereget karena merasa dipersulit dalam proses pengecekan imigrasi ini. Dan masalah yang sebenarnya pun muncul ketika bapak petugas melihat visa Thailand yang kami dapat dari Kedutaan di Vietnam. "This visa is trouble." Begitu kata bapak petugas imigrasi yang mengecek paspor tim BuLiBi. Waduh. Karena dari awal bapak ini bersikap agak jutek, kami pun pesimis. Tapi ternyata beliau justru membantu dan menerangkan peraturan yang seharusnya (yang kami baca online). Dan beliau pun mengganti visa Thailand kami dengan cap 60 hari (yang bisa diperpanjang menjadi 90 hari). Phewh, lega! Entah kenapa visa Thailand yang kami apply secara resmi dan tanpa perantara tersebut bisa jadi bermasalah. Bisa jadi ini kesalahan petugas imigrasi Thailand di Vietnam atau memang saking sering berubahnya kebijakan visa negeri Gajah Putih ini, sampai-sampai karyawan negaranya sendiripun gagal up to date. Apapun alasan di balik drama ini, semua berakhir dengan selamat dan tim BuLiBi pun bisa memulai petualangan bukan liburan biasa di Thailand. Yay! Perpanjang visa Thailand Menjelang habisnya masa berlaku cap 60 hari yang tim BuLiBi dapat di Bandara Internasional Chiang Mai, kami pergi ke kantor imigrasi terdekat untuk perpanjang masa tinggal. Prosesnya pun mudah dan tidak dipungut biaya. Tetapi, ada beberapa proses yang harus dilalui. Proses antri. Kantor imigrasi di Chiang Mai buka jam 6:00 pagi, jadi kami sudah siap-siap berangkat dari jam 5:00 untuk menghindari antrian. Saat kantor masih tutup pun, kita disuruh antri. Antrinya sambil duduk kok. Pengecekan awal. Sesuai antrian tadi, paspor kita dicek satu per satu. Entah kenapa, tim BuLiBi diminta untuk melampirkan fotokopi cap izin masuk dan halaman depan paspor terlebih dahulu. Mungkin karena visa yang bermasalah itu. Jadi, kami terpaksa harus keluar antrian dan cari tempat fotokopi pagi-pagi buta. Untungnya ada tempat fotokopi tepat di seberang kantor imigrasi. Ambil nomor antrian. Setelah lolos proses pengecekan awal (di mana tim BuLiBi harus antri ulang), paspor kamu akan diambil dan kamu akan diberikan nomor antrian. Kamu cukup tunggu nomor kamu muncul di layar dan booth nomor berapa yang harus dituju. Foto dan interview. Ini merupakan tahapan terakhir proses perpanjangan visa atau izin tinggal di Thailand. Ada formulir yang harus kamu isi, di mana kamu harus isi alamat jelas di mana kamu tinggal. Harap dicatat, alamatnya harus jelas dan lengkap, sampai ke nomor rumah dan lain-lain. Tim BuLiBi sempat bermasalah dengan alamat singkat yang disediakan Airbnb. Tetapi petugas imigrasi sabar menunggu dan bahkan bersedia untuk berbicara langsung via telepon dengan pemilik rumah yang kami sewa di Chiang Mai. Setelah tahu kami sewa rumah dari penduduk lokal, bapak-bapak petugas imigrasi yang menangani aplikasi kami mendadak ramah. Bahkan beliau berseru, "Enjoy Song Kran!" saat kami beranjak pergi. Proses selesai dan hanya memakan waktu sekitar 3 jam (termasuk menunggu kantor imigrasi buka dan bolak-balik cari tempat fotokopi). Kalau teman BuLiBi berencana perpanjang visa Thailand, sebaiknya siapkan fotokopi halaman depan paspor dan halaman visa atau cap yang ingin diperpanjang. Selesai sudah pengalaman apply visa Thailand tim BuLiBi. Semua prosesnya sebenarnya mudah, hanya saja kami kena apes dan harus dihadapkan dengan beberapa masalah. Tetapi, asal kita ikuti aturan dan hormati semua prosesnya, dijamin ga bakalan report dan pasti bisa menikmati pengalaman bukan liburan biasa di Thailand! Teman BuLiBi ada pertanyaan? Bisa langsung tulis di comment section di bawah, DM BuLiBi via Instagram, atau langsung gabung diskusi di Forum BuLiBi! (c) BuLiBi Baca juga: Tips Liburan #3: Kerja Freelance Biar Bisa Liburan Kapan Saja Apply Visa Colombia: Bukan Liburan Biasa Ke Negara Bebas Visa
- Jakarta dan Sekitarnya: Staycation Darurat di Ayaka Suites Kuningan
Jakarta Banjir? "Ngungsi" ke Ayaka Suites aja. Baca cerita staycation darurat penduduk asli Jakarta. Ini bukan liburan biasa! Ulasan BuLiBi (Bukan Liburan Biasa) Positif: Lokasi sangat strategis, diantara perkantoran area Sudirman - Kuningan Staff ramah yang selalu siap sedia membantu Layanan laundry yang berbayar ataupun laundry mandiri gratis Fasilitas kamar yang lengkap dengan AC, TV dengan saluran internasional, hairdryer, safety box, dan mini kulkas. Negatif: Meskipun akses ke hotel mudah, letak bangunan di kawasan gang/jalan kecil. Alasan Tim BuLiBi Pilih Akomodasi Ini: Tarif hotel yang relatif murah (Rp. 655.500/malam) untuk ukuran hotel yang terletak di pusat Kota Jakarta, terlebih karena mampu memberikan pengalaman menginap yang sangat mengesankan untuk saya pribadi. Cek tarif hotel dan booking sekarang! Di hari pertama 2020, Jakarta kembali didatangi kawan lama: banjir. Jutaan volume air yang selalu mengganggu aktivitas warga Jakarta ini menggenangi beberapa wilayah yang telah diguyur hujan terparah selama 15 abad sepanjang malam tahun baru. Sebagai warga Kelapa Gading yang langganan banjir, peristiwa awal tahun ini merupakan banjir paling buruk yang pernah saya alami. Ketinggian air di dalam rumah (iya, kamu nggak salah baca, kok) mencapai lutut orang dewasa. Di luar rumah? Tenang, cuma se-paha. Keadaan rumah yang tidak layak dihuni--kulkas, sofa, dan dispenser ngambang serta satu-satunya tempat tidur yang masih 'aman' mulai terendam susu coklat di bagian bawahnya-- akhirnya mengharuskan keluarga saya untuk mengungsi. Pengungsian kali ini beda dengan tahun-tahun sebelumnya karena kami jadi nggak sengaja staycation selama 5 hari di Ayaka Suites, Kuningan. Letaknya yang strategis di tengah hutan beton perkantoran Jakarta menjadikan Ayaka Suites salah satu pilihan penginapan yang cukup proper untuk warga Jakarta yang memang berencana menghabiskan waktu senggang untuk staycation atau untuk mereka yang mengunjungi Jakarta untuk kepentingan bisnis. Atau... ya mengungsi ketika ada banjir, seperti saya ini. Tiba di hotel setelah menerjang banjir Proses pemesanan hotel dan pembayaran berlangsung tidak sampai 10 menit karena semua tinggal one click away. Saat kami meninggalkan rumah, saya tidak mengira kalau arus air di luar ternyata deras, cukup membuat saya kehilangan keseimbangan saat menerjang banjir. Kami mencoba memesan taksi online setelah berjalan selama 1 jam dari rumah ke tempat yang lebih aman dan tidak terdampak banjir. Perjalanan menuju hotel pun juga harus memutar ke daerah yang kering sehingga memakan waktu lebih lama dari semestinya. Hal pertama yang membuat saya terkesan saat tiba di Ayaka Suites adalah ramahnya staff hotel yang terasa begitu autentik (atau mereka emang kasihan saja melihat kami sekeluarga lecek kebanjiran). Kami tiba di hotel pukul 09:00 WIB dan berencana melakukan early check-in. Sayangnya, kami belum bisa menempati kamar karena kondisi hotel yang sudah full-booked. Masuk akal, karena pasti banyak yang merayakan tahun baru dari tadi malam. Layanan dan makanan hotel yang mengesankan Satu hal lagi yang membuat kami lega dan tidak perlu pusing memikirkan baju basah adalah Ayaka Suites menyediakan layanan laundry untuk para tamunya. Setiap helai pakaian dikenakan biaya sebesar Rp. 11.000. Nah, kalau kamu lebih suka melakukan segala sesuatunya sendiri, mereka juga menyediakan ruangan laundry lengkap dengan mesin cuci, mesin pengering, dan setrika di setiap lantai. Tamu bisa menggunakan layanan ini secara gratis! Entah kenapa pilihan untuk sarapan di hotel baru terbersit sekitar 10 menit setelah kami beristirahat di lobby, karena awalnya kami berencana untuk mencari sarapan ke luar. Kami segera menitipkan barang bawaan di resepsionis (saya kembali dibuat terkesan dengan staff lobby boy yang ramah) dan bergegas ke lantai dua menuju Kayu Manis Cafe and Bistro. Untuk paket full breakfast, tamu dikenakan biaya sebesar kurang lebih Rp, 100.000 yang mana relatif murah dan much to my surprise, rata-rata makanannya enak untuk ukuran hotel bintang 3. Ada satu hal yang pasti dan hampir selalu saya perhatikan setiap menginap di hotel; susu segar yang disajikan, karena saya pernah mengalami pengalaman kurang menyenangkan dengan sajian susu di sebuah hotel. Di Ayaka Suites, kesan baik kembali saya temukan ketika sarapan saya lengkap dengan susu segar yang mereka sajikan. Kamar minimalis dengan fasilitas modern Kami akhirnya bisa check-in pada pukul 11:00, 3 jam lebih cepat dari waktu check-in normal. Sebagaimana yang dijanjikan staff hotel sebelumnya untuk segera memberitahu saya jika sudah ada kamar yang bisa ditempati. Kesan pertama saat masuk ke kamar adalah desain minimalis yang terlihat dari lemari yang tidak terlalu besar, cukup untuk menyimpan beberapa pakaian yang dilengkapi juga dengan gantungan baju dan sebuah safety box serta kulkas mini. Kamar ini juga dilengkapi dengan AC dan tv dengan saluran internasional. Kamar mandi standar lengkap dengan shower, wastafel, dan peralatan mandi, termasuk hairdryer. Staycation darurat yang berkesan Dalam kondisi yang tidak menyenangkan karena terdampak banjir, pengalaman staycation darurat di Ayaka Suites mampu mengobati rasa menyebalkan itu. Pelayanan staff yang sangat ramah mampu memberikan kesan yang begitu mendalam untuk saya pribadi dan kesan tersebut terjaga begitu baik selama 5 hari saya menginap di sana. Untuk kamu yang berencana staycation untuk melepas penat dan rehat sejenak dari sibuknya Jakarta, Ayaka Suites bisa menjadi pilihan yang tepat untuk kamu menghabiskan waktu senggang, baik itu sendiri maupun bersama orang-orang tersayang! (c) BuLiBi Cari hotel lain di sini:
- Cerita Bukan Liburan Biasa: Liburan Murah Tapi Seru di Malang
Halo, teman Bulibi! Kali ini, tim Bukan Liburan Biasa berbagi cerita dengan salah satu teman setia kita, Odhila. Pemenang kontes tahun baru 2020 Instagram BuLiBi. Dia dan kawan-kawan menghabiskan liburan bulan Desember yang lalu di Malang. Ini dia bukan liburan biasa versi Odhila. Simak ceritanya! Teman BuLiBi: Odhila (IG: @odickyidol) Destinasi: Malang, Jawa Timur Tanggal: 25 - 29 Desember 2019 BuLiBi: Kenapa pilih liburan tanggal segitu? Odhila: Mungkin ini yang disebut "Early New Year's Eve Celebration", and you can guess why we called it, ya, kami semua adalah pekerja yg masih kerja tgl 30 & 31 Desember. LOL. So, kami merencanakan liburan ke Malang dari tanggal 25 - 29 Desember 2019. BuLiBi: Hari pertama kemana aja? Odhila: Museum Angkut, Kota Batu, Malang. Well, before we talk about Museum Angkut, fyi kami berangkat dari Bandung ke Malang naik kereta Malabar Ekonomi. Ya, kami mencari akomodasi yang paling murah, karena akhir tahun dan hari besar. Perjalanan dari tgl 25 Desenver 2019 jam 19.50 WIB, dan tiba di Malang tgl 26 Desember 2019 jam 11.25 WIB (almost 16 hours). Dan kami tinggal di dua villa yang berbeda. Untuk tanggal 26-28 di Villa Qita dan untuk tgl 28-29 di Villa Casa Sky Rose yang sama2 berada di Kota Batu. Cari hotel di Malang: Terbaik 13 Hotel di Malang Okay, now we talk about Museum Angkut. Sebagai orang awam yang belum pernah ke Museum Angkut, gue pribadi masih blank total, what is it? Kenapa gak searching? Well, kalau gue searching, nanti gak bakal seru. LOL. Kesan pertama masuk ke museum angkut, gue kira "oh, cuma segini aja isinya", dan ternyata masih banyak jalan menuju keistimewaan museum angkut. Ya, Museum Angkut terbagi jadi beberapa area yang mewakili masing-masing wilayah negara dan Zona, mulai dari Zona Batavia dan Pecinan, Gangster & Broadway Street, Eropa, Buckingham Palace, dan zona lainnya. Dan buat kalian pecinta otomotif, udah pasti Museum Angkut ini adalah tujuan utama (surga dunia) kalian, karena di sini ditampilkan jenis kendaraan dari zaman bareto neupi ka ayeuna (haha Sundanese sedikit lah). Dan yang paling seru adalah Zona Gangster & Broadway Street dengan adanya musik DJ yang membuat stress hilang. LOL. Kalau istilah zaman sekarang mah dugem dugstak lah. Selain itu, kami pun tur ke seluruh zona dan enjoy all pajangan/replika dari kendaraan yang ada di seluruh penjuru dunia. Kalau dibilang capek, ya capek tapi kami tidak membatasi diri, karena rasa capek kami sepadan dengan apa yang disajikan oleh Museum Angkut ini. Dan gue pun love it banget. F*ckantastic day. BuLiBi: Seru! Hari kedua lanjut ke mana? Odhila: Bukit Widodaren dan Pasir Berbisik, Bromo. Hari kedua bisa dibilang hari yang sangat melelahkan, karena ada banyak tempat yang dikunjungi. Kami dijemput tengah malam untuk berangkat ke Penanjakan 2, Bromo Sunrise View Point. Perjalanan dari villa ke lokasi sekitar 4 jam (plus ini dan itu). Setibanya di sana, kulit serasa mati rasa coz dinginnya suhu di sana. We walked to view point dan enjoyed sunrise dengan saling berdesakan. Yep, a lot of people there. After that, we went to Bukit Widodaren dan view di sana W.O.W.B.G.T! We took a lot of pic that is too beautiful to forget. Selain itu, kami juga membuat video zumba to support one of us and that helped us to warm our body. Then, we went to Pasir Berbisik, again and again view di sana W.O.W.B.G.T dengan adanya pancaran matahari yang menyinari satu titik, we called it "LUX", coz we sang a song called "Lux Aurumque". LOL, yes, we're choir singers. Lokasi di sana seperti gurun di timur sana dan view-nya sangat berbeda dengan lokasi Bukit Widodaren. Di lokasi ini benar-benar full pasir dengan minim green plant. Entah apa this place called Pasir Berbisik, tapi setelah ke sana, dengan hembusan angin yang kencang serasa ada bisikan dari pasir yg terbawa angin dan terdengar di telingaku. LOL, maybe that's the reason. Time passed by, night came and we went to alun-alun Kota Batu untuk cari dinner. And food di sana banyak beut dah. Our goal is "Pos Ketan Legenda Alun-Alun Batu" dan memang rasa ketan ini sangat melegenda. Not only ketan saja yang kami beli, but also jajanan sate yang terhitung murah untuk dibeli. Kami pun enjoy night moments di Alun-Alun Kota Batu. That was another F*ckuntastic Day. BuLiBi: Bukan liburan biasa emang f*ckuntastic! Lanjut hari ketiga? Odhila: Mungkin hari ini bisa dibilang last day to hangout di Kota Batu Malang, our schedule for today is Jatim Park 2. Jatim Park 2 lebih fokus pada hewan, baik Zoo maupun museum binatang (masa kini dan purba). Well, I'm amazed with a lot of animals there, coz banyak hewan yg benar-benar belum pernah gue lihat secara langsung, baik hewan terkecil di dunia maupun hewan tercepat di dunia. Itu sungguh bikin mata melotot tanpa henti. LOL. I'm really sure that BSZ was so much better than zoo yang ada di Bandung [BuLiBi: kota asal Odhila]. Di Batu Secret Zoo ini, not only menyajikan hewan-hewan saja, but also some wahana yang lumayan seru. Kami hanya bisa mencoba 2 wahana karna keterbatasan waktu, dan saat itu turun hujan lebat. 2 wahana yang kami naiki pun lumayan bikin tegang sampai-sampai jantung bisa copot tuh. LOL. Dan parahnya, karena one of us takut akan wahana ini, kayaknya mbak operator saw that dan finally kami diputar kembali untuk kedua kalinya. LOL. Untuk makanan, di food court BSZ ini juga lumayan menarik dan bervariasi, mulai dari makanan khas Malang, sate-satean, dsb. dengan harga yang sangat terjangkau, dan pembayaran di sini menggunakan kartu yang di top up mulai dari 50ribu rupiah. Setelah jalan-jalan di BSZ, kami pun pergi ke Museum Satwa, di mana a lot of pajangan hewan-hewan yang ada di seluruh dunia dengan berbagai klasifikasi spesies, mulai dari spesies laut, darat, even udara. ya maybe karena sudah terlalu capek jalan-jalan seharian, di Museum ini gue gak terlalu banyak keliling. Karena menikmati kerennya hewan-hewan dan fasilitas yang ada di sana, tanpa sadar kami sudah berjalan selama hampir 6-7 jam lamanya. After that kami pergi ke tempat oleh-oleh, karena waktu untuk membeli oleh-oleh hanya saat itu, dan juga kami harus menyiapkan bahan-bahan makanan untuk BBQ di villa. Well, karena some of us chef (LOL), kami para penikmat makanan jadi santai saja untuk menikmati BBQ di samping pool Villa. BuLiBi: Asyik, ya. Kesan pengalaman bukan liburan biasa di Malang? Odhila: Well, untuk tiga hari ini, bisa dibilang liburan yang sangat memuaskan untuk dinikmati di akhir tahun 2019, menjelang tahun baru 2020. What F*ckuntastic Days. Mau cerita liburan kamu diliput tim BuLiBi juga? Terima kasih, Odhila, sudah berbagi dengan tim BuLiBi. Semoga cepat liburan lagi dalam waktu dekat ya! Buat kamu yang punya cerita liburan dan foto-foto seru, bisa langsung follow dan DM BuLiBi via Instagram! Caranya gampang, kok! Cuma follow, tag, dan ceritakan pengalaman kamu. Tidak dipungut biaya apa pun! (c) BuLiBi Baca juga: Terbaik 13 Hotel di Malang Mau liburan ke Malang? Ini Tipsnya! Pantai Malang Selatan Menyimpan 11 Spot Pantai yang Indah!'
- Apply Visa Colombia: Bukan Liburan Biasa Ke Negara Bebas Visa
Ada banyak negara bebas visa yang bisa kita sambangi, salah satunya adalah Colombia. Bagaimana cara masuk ke negara Pablo Escobar ini? Berikut ini panduan BuLiBi apply visa Colombia. Liburan ga harus melulu ke tempat yang itu-itu aja. Memang semua butuh perizinan masuk dan urusan apply visa bisa jadi kendala, TAPI bukan negara ASEAN saja yang memudahkan kita berkunjung untuk liburan. Di Benua Amerika juga ada banyak negara bebas visa untuk pemegang paspor Indonesia, lho! Di artikel ini, BuLiBi bahas soal apply visa Colombia dan cara masuk ke negara ini. Untuk daftar negara bebas visa lainnya, silakan baca Tips Liburan #1: Ke Negara Bebas Visa. Tim BuLiBi, bukan liburan biasa, pergi ke Colombia bulan September 2019. Banyak sanak saudara dan teman-teman di Indonesia yang memberi tanggapan negatif karena Colombia terkenal dengan sejarah kriminal dan narkobanya. Yang kebanyakan nonton Narcos pasti tahu betul soal ini. Tapi, itu di zaman Pablo Escobar. Sekarang, negara ini jauh lebih aman, jadi teman BuLiBi tidak perlu khawatir soal keselamatan saat liburan di Colombia. That being said, namanya kota besar pasti ada tindak kriminalitas. Jadi, tetap waspada itu perlu. Okay, kembali ke soal apply visa Colombia Colombia merupakan salah satu dari puluhan negara bebas visa. Ya, artinya kamu tidak perlu apply visa untuk liburan ke negara ini. Hebatnya lagi, kamu boleh liburan di negara ini selama 90 hari! Proses masuknya juga gampang dan sama sekali ga menakutkan. Tim Bukan Liburan Biasa masuk via Bandara Jose Maria Cordova di kota Medellin. Setiap penerbangan internasional mendarat di bandara Bogota, ibukotanya Colombia, begitu juga dengan pesawat yang tim BuLiBi tumpangi dari Singapura. Karena hanya transit sebentar di Bogota dan tidak keluar dari area bandara, kita tidak perlu lewat pengecekan imigrasi. Baru di Medellin lah kita melalui proses ini. Seperti yang bisa kamu baca di artikel Tips Liburan #1, ada beberapa dokumen yang harus kamu persiapkan sebelum masuk ke negara orang, meskipun itu negara bebas visa. Berbekal tips ini, tim BuLiBi sudah siap dengan folder dokumen-dokumen di tangan saat mengantri untuk proses pengecekan imigrasi. Ternyata, petugas imigrasinya tidak meminta kami menunjukan dokumen apa pun. Cukup serahkan paspor. Tempat pengecekan imigrasi di Bandara Jose Maria Cordova sama seperti bandara internasional lain pada umumnya. Ada beberapa kubik kaca di mana para petugas duduk di belakang komputer dan setiap orang yang mau masuk ke Colombia mengantri cantik tunggu giliran dicek petugas (maaf kita tidak punya fotonya, karena salah satu peraturan di bagian imigrasi adalah dilarang main hape). Sambil menunggu paspor dicek, bapak petugas sempat bertanya dalam Bahasa Spanyol. Sayangnya saat itu tim BuLiBi no habla Espanol sama sekali. Jadi kami cuma bisa jawab, "Excuse me?". Untungnya si bapak mengerti dan mengganti pertanyaannya dalam bahasa Inggris. Petugas Imigrasi: "Tourism or business?" BuLiBi: "Tourism." [Jeda beberapa detik, si bapak menggerakkan jemari di keyboard dan serius melihat data di monitor. Tak lama, paspor tim BuLiBi dicap dan dikembalikan.] Petugas Imigrasi: "Gracias." BuLiBi: "Si. Gracias." Tada! Selesailah proses pengecekan imigrasi masuk ke Colombia. Tidak repot, tidak dipungut biaya. Gampang, kan? Meskipun paspor Indonesia bisa dibilang "lemah", proses masuk ke negara lain bisa mudah dan tidak merepotkan. Asal kita ikuti aturan dan persiapkan semua informasi yang mungkin dibutuhkan. Apply visa Colombia memang tidak perlu untuk liburan 90 hari, tapi kalau kamu berencana bekerja di negara ini atau tinggal lebih lama dari 90 hari, silakan cek peraturan visa Colombia melalui website resminya. Ada pertanyaan? Langsung saja kontak BuLiBi, hubungi kami via IG @bu.li.bi atau gabung di Forum BuLiBi! Subscribe untuk jadi yang pertama tahu artikel terbaru BuLiBi. Baca juga: Apply Visa Thailand: Bukan Liburan Biasa Ke Negeri Gajah Putih Tips Liburan #4: Cari Makanan Halal Di Luar Negeri Tips Liburan #5: Tips Backpacker Untuk Para Ladies Artikel paling populer: Tips Liburan #3: Kerja Freelance Biar Bisa Liburan Kapan Saja (c) BuLiBi
- Hotel Murah Di Ayutthaya, Thailand: Baan Baimai Boutique Room
Liburan ke Ayutthaya, Thailand? Booking hotel murah di Ayutthaya yang tidak jauh dari destinasi-destinasi utama: Baan Baimai Boutique Room. Ulasan BuLiBi (Bukan Liburan Biasa): Positif: Nuansa rumahan dan staf yang ramah; Sangat dekat dari tempat-tempat wisata, terutama Ayutthaya Historical Park; Fasilitas yang sangat memadai untuk sekelas hotel murah; Layanan antar-jemput tuk-tuk yang mudah dan murah (tim BuLiBi diantar ke stasiun kereta jam 3 subuh setelah check-out); Kotak sarapan yang diantar di malam hari sebelumnya. Negatif: Tidak ada lemari baju, hanya tempat menggantung baju di atas kulkas; Masakan hotel kurang memuaskan; Banyak nyamuk di teras. Alasan Tim BuLiBi pilih akomodasi ini: Mengingat murahnya tarif hotel ini, semua hal negatif jadi tidak masalah. Hotel murah ini memang bukan untuk staycation, tapi lebih dari cukup untuk dijadikan tempat istirahat. Jauh lebih baik dibandingkan hostel dan hotel melati. Bandingkan tarif hotel dan booking yang termurah di sini! Thailand tidak hanya menawarkan keindahan pantai tropis dan wisata kuliner lezat. Masih banyak yang bisa kamu jelajahi di negara ini, seperti di kota bersejarah Ayutthaya. Lokasinya di utara Bangkok dan dikelilingi oleh tiga sungai yang membuatnya terlihat seperti pulau kecil yang terisolasi dari pulau utama Thailand. Tapi ini justru membuat sejarah dan nuansa klasik Ayutthaya terjaga dengan baik. Banyak museum dan kuil menunggumu di bekas ibukota Kerajaan Siam ini. Untuk memaksimalkan pengalaman liburan kamu, booking penginapan yang tidak jauh dari destinasi-destinasi utama, seperti Baan Baimai Boutique Room yang akan kita bahas berikut ini! Kenapa pilih Baan Baimai? Setelah browsing cari hotel online, saya memilih Baan Baimai Boutique Room karena lokasinya yang strategis dan nuansa rumahan yang ditawarkan. Terletak di kawasan Phra Nakhon, hotel murah ini hanya beberapa langkah dari salah satu jalan utama Ayutthaya, Pa Thon. Dari pengalaman pribadi, supir taksi saya tidak kesulitan menemukan tempat ini hanya dengan menggunakan arahan Google Map. Jadi, kamu juga pasti bisa! Hotel murah ini hanya beberapa meter dari jalan utama tersebuut, saat masuk "gang", kamu bisa lihat cat dinding kuning cerah seperti dalam foto di atas. Karena hotel ini kecil dan bernuansa rumahan, jangan harap disambut bell boy di pintu masuk. Tapi kalau kamu butuh bantuan, ada satpam yang berjaga di depan hotel dan siap membantu setiap tamunya. Staf ramah dan nuansa nyaman Nuansa nyaman yang ditawarkan langsung terasa begitu masuk. Rasanya tidak seperti memasuki hotel, tetapi seperti bertamu ke rumah keluarga. Pepohonan dan tanaman berbunga memenuhi area hotel, bikin lupa panasnya cuaca di Ayutthaya, Thailand hari itu. Untuk sampai ke lobi, kamu harus jalan melewati beberapa kamar. Staf yang ramah akan menyambutmu dan menawarkan segelas minuman. Semua yang kamu butuhkan untuk buat kopi dan teh sendiri tersedia di lobi. Hotel murah ini juga menyediakan menu hidangan yang beragam kalau kamu lapar. Kamu bisa makan di teras depan area lobi atau di depan kamar. Di sebelah meja resepsionis, kamu bisa lihat ratusan jarum pentul menancap di peta di dinding. Jarum-jarum itu merepresentasikan kota tamu-tamu yang pernah menginap di Baan Baimai Boutique Room. Ambil satu jarum dan tandai kota asalmu di peta! Kamar nyaman dengan suasana asyik Setiap kamar dilengkapi double bed dengan meja dan colokan listrik di kedua sisinya. Jadi kamu tidak usah rebutan dengan teman sekamar. Meskipun hotel murah ini tergolong kecil, tidak usah khawatir terganggu dengan suara-suara di luar. Setelah masuk kamar dan tutup semua pintu dan jendela, saya bisa tidur dengan nyenyak! Saya rekomendasikan untuk duduk di teras depan kamar di pagi hari sebelum terik matahari terasa. Sama seperti di Indonesia, di Ayutthaya, Thailand juga banyak nyamuk. Untungnya Baan Baimai menyediakan raket listrik dan lampu serangga di setiap kamar. Meskipun begitu, lebih baik lagi kalau kamu siapkan lotion anti nyamuk. Fasilitas yang cukup baik sekelas hotel butik Dengan tarif yang terjangkau, saya cukup dibuat terkejut oleh kualitas fasilitas kamar di Baan Baimai. Kamar mandinya besar, lengkap dengan shower, wastafel, dan toilet duduk. Handuk bersih disediakan setiap hari. Setiap kamarnya juga dilengkapi AC, TV layar datar dengan saluran internasional, kulkas, meja dan kursi buat kamu yang mau ber-laptop ria. Disediakan juga brosur-brosur destinasi wisata di Ayutthaya, Thailand. Kamu bisa tanya ke staf resepsionis untuk informasi lebih lanjut. Sekotak sarapan Ini salah satu alasan utama alasan saya suka menginap di hotel murah ini. Setiap hari, kamu akan dikirim sekotak makanan, mulai dari roti, buah-buahan, sampai yogurt, semua yang kamu butuhkan untuk memulai hari sebelum menjelajah kawasan Ayutthaya yang bersejarah. Bagusnya, makanan ini dikirim di malam hari sebelumnya, jadi kamu tidak perlu bangun pagi hanya demi sarapan gratis. Kalau masih kurang kenyang, kamu bisa pesan makanan dari menu hotel. Kalau mau sarapan pagi-pagi, pesan makanan satu hari sebelumnya di meja resepsionis, ya. Kalau kamu tidak suka makan di hotel, ada banyak pilihan di sekitar hotel. Cukup jalan kaki ke jalan utama, ada banyak warung lokal yang menawarkan banyak pilihan. Pizza dan kedai kopi bisa kamu jangkau dengan jalan kaki lima menit saja. Lapar menyerang di malam hari? Pasar malam hanya 10 menit dari sini! Ada satu hal lagi yang dekat dari hotel. Kita bahas yang satu ini di bawah! Kalau kamu mau keliling kota naik tuk-tuk (semacam bajai ala Thailand), tinggal pesan di meja resepsionis, jadi kamu tidak perlu repot tawar-menawar tarif di pinggir jalan. Cantiknya Ayutthaya Historical Park Masih ragu untuk pilih Ayutthaya ketimbang destinasi lain di Thailand? Lihat foto di atas. Hanya beberapa menit dari Baan Baimai, ada banyak tempat wisata secantik itu yang bisa kamu kunjungi, mulai dari museum, wat, sampai pasar. Petualangan tanpa akhir! Bisa dibilang, seluruh kawasan Ayutthaya seperti museum hidup. Memang ada rumah-rumah modern, tetapi nuansa dan tata kotanya belum banyak berubah. Keliling kawasan Ayutthaya seperti berjalan kembali ke masa lalu saat kawasan ini merupakan salah satu pusat perdagangan di Thailand. Jangan lupa bawa kamera sepanjang waktu! Hotel murah untuk yang berjiwa petualang Suatu hari nanti, saya dan tim bukan liburan biasa BuLiBi akan kembali ke Ayutthaya dan Baan Baimai Boutique Room jelas merupakan pilihan utama saya untuk masalah akomodasi. Jadi, kalau kamu mau pengalaman liburan Thailand yang otentik, kunjungi Ayutthaya. Dan untuk memastikan tidur yang nyenyak setelah seharian berpetualang, pilih Baan Baimai Boutique Room. (c) BuLiBi Cek tarif hotel di sini: Cari hotel lainnya: Read this article in English on Trip101.
- Apa Kata Bule?
As you navigate the Internet planning your next holiday, you'll find countless travel websites claiming to offer the trip of a lifetime, where romance, relaxation and adventure await. If you spend enough time browsing, you might begin to believe that anywhere you choose must be paradise! Here at Bulibi, we strive to scratch beneath the surface to discover the local experience, the hidden gems too often missed by travelers on a package tour. We invite you to join us as we take an in-depth look at the advantages and activities of each destination, paired with all the relevant and practical information to guide you through an unforgettable holiday. Guides: Central Vietnam
- Guide to Central Vietnam
From white sand beaches and seafood feasts to exquisite temples and shopping, Central Vietnam has become an increasingly popular travel destination. Centered around the dynamic and modern city of Da Nang, the atmospheric old capital of Hue, and the timeless market town of Hoi An, the region truly offers something for everyone. And with Da Nang's new international airport, visiting is cheap and easier than ever. Accommodation Whatever the time of year or your budget, finding a great place to stay is quite possible. The beach stretching endlessly south from Da Nang to Hoi An is lined with luxurious resort getaways. Alternatively, there is an abundance of mid-range hotels in all three cities offering excellent value. If you seek a more social experience, there are clean, fun hostels catering to the younger crowd. Extended Accommodation Guide Dining Almost anyone who visits Vietnam raves about the great value and quality of ingredients of its cuisine. When listing the best food in Southeast Asia, it is impossible to overlook the flavors found here. For a truly complete meal, any Vietnamese chef will insist that a balance is necessary between the five elemental flavors: sweet, sour, bitter, spicy and salty. Each region in Vietnam has its own specialties due to differences in climate and culinary influences. While northern cuisine near the capital of Hanoi has more flavors and ingredients in common with China, the south, near Ho Chi Minh City has bolder flavors from the veritable cornucopia of ingredients at its disposal. Placed directly between the two giant metropolises of Hanoi and Ho Chi Minh City, Central Vietnam boasts perhaps the most refined cuisine in the country. For an in-depth look at the local cuisine, check out our extended article on what to eat and where to find it. Extended Dining Guide Sun and Sea It's no secret that Central Vietnam has some of the best beaches in the region. The sand is soft and the water temperature heavenly. Whether it's a beach in the city next to your hotel you're looking for, or seclusion far from the crowds, you're sure to find what you want. Arriving in Da Nang, you'll quickly notice its primary draw: thirty kilometers of white sand stretching from Monkey Mountain in the north all the way south to Hoi An. The spectacular sunrises are reason enough to get out of bed early. Perhaps the best stretch of sand to while away an afternoon is between the neighboring An Bàng and Cửa Đại beaches, a ten minute drive to the coast from Hoi An. For sunbathing and swimming alongside good food, drink, music and parasailing, An Bàng has got you covered. A ten minute stroll south on the sand brings you to relaxed Cửa Đại, which offers much of the same with a more relaxed vibe and lower prices. Either way, you're bound to forget all your earthly concerns as you recline with a fresh coconut in hand between dips in the sea. The best beach in the region, however, could be north of the mountain not far from Hue. A half hour drive to the coast from the center of Hue is a little slice of paradise on An Dương beach called Beach Bar Hue. It's a bit tricky to locate, but once you do you'll be thankful you made the effort. Set aside half a day to enjoy yourselves with resident expats and other travelers at this local favorite. Activities Once you've had your fill of the beach, there's plenty to do away from the coast. As a general rule, Hue is a cultural destination, Da Nang the cosmopolitan urban center, and Hoi An a shopping and photographer's mecca. Extended Activity Guide So now you're ready to plan a trip, but you're not sure how to start? Read through our quick preparation guide to make your trip as stress-free as possible. Extended Preparation Guide
- What to do in Central Vietnam
Hue Starting in the north, Hue is dominated by the old imperial citadel, where the royal family and its retainers lived for hundreds of years. No trip the region is complete without a day touring the complex, modeled after the Forbidden City of Beijing and sharing its Taoist and Confucian influence, but at the same time uniquely Vietnamese. Outside Hue are many elaborately-constructed tombs of Vietnamese emperors, including those of Tự Đức, Khải Định and Gia Long. All are exquisite in their own way, with remarkable detail paid to the aesthetics and energy flow of feng shui. It is advisable to visit in the morning or late afternoon when the sun isn't directly overhead. For those traveling in the region who are interested in learning about the American War, a day trip north of Hue to the DMZ, de-militarized zone, is an unforgettable experience. For over a decade, this was the most heavily armed and contested border in the world. The tunnels and war-ravaged terrain provide a grim reminder of how recent this peaceful area was engulfed in conflict. Most visitors to Hue note the frequent rainfall. Although the weather is often wet, it adds a languid, meditative atmosphere lacking in urban Vietnam. Bring an umbrella and a poncho and don't be in a hurry. This is a place to relax and unwind. Da Nang If Hue is the region's spiritual and cultural center, Da Nang is its modern driving force. The city is home to many urban professionals and caters to the young population with abundant street food, brazen karaoke bars and an attractive riverside promenade. The Han River has several bridges knitting the city together, including the striking Dragon Bridge, which erupts fire in a pyrotechnic display every Friday and Saturday night at 9pm. We'd recommend heading to the rooftop of 7 Bridges Brewery and enjoying the show with a craft beer in hand. Young travelers on a budget tend to congregate in the An Thượng neighborhood, between the river and the beach. Hostels and budget accommodations are sprouting like mushrooms alongside bars and restaurants catering to many tastes and budgets. This area tends to stay open later at night after the locals elsewhere have turned in. West of the river in the city center the pace is frenetic, with plenty of cheap places to grab a drink or a bite to eat. Just navigating the city during the evening rush is a thrilling activity in itself. You may be tempted to make some new friends singing karaoke. Don't be intimidated: everyone seems to love singing here regardless of the level of talent! Many who come to Vietnam would not call the trip complete without pulling up a tiny plastic chair in a loud, roadside stall and having a few cheap bia hơi (draft beer) with the locals. Hoi An Of all the places to be in Central Vietnam, people usually speak most highly of Hoi An. It is a place that certainly deserves a few days of your time. Whether you're here to shop for clothing, take a cooking class or just wander the picturesque streets with a camera at dusk, you'll have plenty to share with friends and family once you've returned home. In recent years, more and more people have flocked here to have suits, dresses, bags or shoes made. The quality of work is top-notch, and the stiff competition keeps the prices reasonable. Are those $400 pair of boots at the mall out of your price range? They'll only cost a fraction of that once you've been fitted at the cobbler in Hoi An. Want to expand your culinary expertise or impress someone with a recipe back home? Take a cooking class and gain insight into the local cuisine. Once you've learned how to balance five different flavors, you'll not only be a chef, you'll also be a culinary alchemist! From day to night, there is a marked difference in Hoi An's ambiance. By day, motorcycles whiz through the narrow streets and keep pedestrians on their toes. But once the sun has gone down, there is no motor transport allowed within the old town. Colorful lanterns are lit above streets and alongside buildings as everyone comes outside for their evening stroll. A lasting memory of your visit may be a candle-lit dinner on a balcony overlooking this ancient town where time stands still.
- Dining in Central Vietnam
Hue The northernmost destination in Central Vietnam, Hue is situated on the atmospheric Perfume River. Because Hue was the imperial capital of Vietnam for 200 years, its cuisine was developed into an artform to please the discerning palates of its royal family. Among its most famous delicacies are bún bò Huế, a vermicelli noodle soup with tender beef, onions and coriander, and bánh bèo, delicate rice and tapioca flour cakes topped with dried shrimp, pork crackling and scallions, dipped in Vietnam's ubiquitous dipping sauce nước chấm. The local food can be sampled at a wide variety of restaurants and prices, from haute cuisine restaurants offering ten course tasting menus paired with tea or wine, to food stalls frequented by students near the university east of the river. As always, follow your nose and try the places filled with locals. Da Nang Passing south over the Hai Van Mountain, the traditional dividing line between north and south Vietnam, we enter the booming city of Da Nang. Vietnam's third most important city, it stands in stark contrast to the more quiet and traditional city of Hue. As you move through the city, the sign you will see most often in front of local restaurants is mì quảng, a dish of flat rice noodles, a splash of broth, turmeric, coriander and topped with peanuts. It comes with your choice of protein, which could be chicken, pork, fish, shrimp, hard-boiled egg, frog or snails. Last, add in chili peppers, soy sauce and fresh lime juice to your preference. If you're counting, that's all five elemental flavors in one bowl for the princely sum of under two US dollars. Another meal not to be missed is nem nướng cuốn, a build-your-own spring roll as much fun to construct as it is to eat. Start with a sheet of rice paper, place onto it a generous helping of greens (lettuce, mint, basil, coriander), add some pickled carrots and radishes, then place a skewer of grilled pork on the rice paper while wrapping it firmly together. While gripping the tightly wrapped spring roll, remove the wooden skewer, dip your creation in the provided peanut sauce and enjoy. These are often accompanied by bánh xèo, a rice flour and turmeric pancake stuffed with shrimp, green onion and bean sprouts. People here consume large amounts of local beer: Huda from Hue, or Larue from Da Nang. Although they are large-scale breweries, they are better quality than most other beers in southeast Asia, probably owing to the quality of the mountain water used. In addition, Da Nang has an excellent microbrewery that makes a beer for every taste. On a hot day, you can't go wrong with an ice cold local brew in the shade. If you've had one too many bowl of noodles, Da Nang has a growing number of excellent international restaurants. A traveler can choose from refined French bistros, authentic Korean restaurants, decadent Indian food or legit American barbecue. With a growing community of expats, the range of dining options will continue to expand. Hoi An Less than an hour's journey south is Central Vietnam's most popular tourist destination, the ancient trading port of Hoi An. For nearly a millennium, traders from across Asia sailed here to do business and even make their homes here. Because of the mix of people, many foreign flavors found their way into the local food. An example of this is cao lầu, a bowl of thick, udon-like rice noodles, tender pork, lettuce, mint, lemon basil and coriander, with a splash of slightly sweet broth. Because the noodles are difficult to make, this dish is difficult to find outside the area, and certainly worth seeking out while in Hoi An. Nearly everyone who visits Vietnam will come across the famous bánh mì sandwich, which can range anywhere from tasty to dangerously addictive. To say a well-made bánh mì is merely a sandwich is like saying Borobudur is just a pile of stones. While bánh mì can be found anywhere in Vietnam as a cheap local breakfast or lunch, the abundance of tourists in Hoi An has led to many eateries offering premium versions of it. For a dollar, tuck into a warm, crispy baguette, spread generously with pâté, stuffed with tender marinated pork, pickled radish, cucumber and coriander. Better yet, customize it with chicken, beef, sausage, cheese, avocado, chili or mayonnaise. As with many dishes here, there is no wrong way to enjoy it. As you can see, it's easy to get carried away talking about the food on offer here. A full day trying out the local food can be counted as a day well spent. But don't take my word for it, come check it out for yourself! Hue Tam Tinh Vien Homestay – For guests only, an excellent value tasting menu is offered, specializing in local Hue specialties, including bánh bèo and bánh bột lọc, a sticky rice and tapioca dumpling filled with shrimp or pork. Beach Bar Hue – dine on a range of good food from western classics and seafood to Hue specialties right on the beach at this well-placed beach hideaway half an hour out of town. Lang Co Halfway between Hue and Da Nang on a massive lagoon are a number of seafood restaurants offering the daily catch to tourists and locals alike. We recommend Hải Sản Bé Thân, built on stilts over the lagoon, where you choose from a large menu including crab, prawn, fish, clam, oyster, squid and octopus prepared in a variety of delicious ways. Da Nang Mì Quảng Bà Mua – an excellent place to sample the local favorite. Choose between chicken, pork, snail, frog, shrimp, fish, eel, hard-boiled egg or a combination of everything. Wash it down with a tasty and healthy rau má (an aromatic herb and vegetable drink). Bánh Xèo Bà Dưỡng – this place is always busy, and for good reason. The restaurant specializes in nem nướng cuốn (we affectionately refer to it as meat stick), served with bánh xèo. Yuk Hae Gong BBQ – Walk around Da Nang and you'll immediately notice legions of Korean expats and tourists. More and more 한국인 are opening restaurants here, including 육해공 (Yuk Hae Gong), which grills up excellent samgyeopsal (pork belly eaten with garlic and chili paste), pajeon (seafood and veggie pancake), alongside classic bibimbap (rice topped with assorted meat, veggies and egg in a hot stone bowl), and of course unlimited kimchi. Give the makgeolli (cloudy rice wine) a try, a rare find outside of Korea. Bếp Hên Restaurant – a stylish and leafy bistro, Bếp Hên serves a wide range of home-style classics from all over Vietnam. Some of the flavors may be a bit unusual for foreign palates, but an adventurous appetite will be rewarded with treasures including hard-boiled duck egg curry or caramelized pork belly. Bon appétit! Nhà hàng Bà Rô – Da Nang has many overpriced seafood restaurants serving mediocre seafood to tourists. Bà Rô is not one of them. Tucked under Monkey Mountain in a quiet local neighborhood, this place is packed every lunch with the same happy locals. Specialties include hàu nướng, grilled oysters with spicy mayonnaise and crushed peanuts. Le Bambino – With an imperial presence lasting nearly a hundred years, France has left a cultural footprint easily noticed in our time. French cuisine is still held in high esteem and Bambino is a good place to experience this for yourself. Choose from classics like escargot, foie gras or duck leg confit paired with a bottle of red from the Loire valley and all will seem right in the world. Namaste Omar's Indian Restaurant – We're picky about the quality of Indian food. So believe me when I say we looked forward to our weekly visits here. They've got a tandoori oven and most of the classics you can imagine, including briyani, vindaloo, palak paneer, rogan josh, and an excellent value lunch thali. They will indeed make your meal spicy if you so prefer. Don't forget the mango lassi. Eazy Pickins – A wood-smoker guru from North Carolina has set up shop in Da Nang making some of the best pork ribs, quarter chicken and chopped pork you're likely to find anywhere. Pair your choice of meat with a side of fried okra and you just might be coming back again soon. 7 Bridges Taproom – This Da Nang-based brewery has done quite all right for themselves, opening this multi-storey temple to quality beer. The friendly owner will encourage you to draw what's on tap or whatever he's been working on recently. Their Vanilla Porter and Sunset Wheat are particularly good. Hoi An Quán Cao Lầu Thanh - This unassuming local eatery doesn't look like much from the outside, but for they lack in ambience they make up for in the freshness of their ingredients in their specialty, cao lầu. Can't be beaten for authenticity and value. Phi Banh Mi - Another hole in the wall just north of the old town, Phi Banh Mi offers several varieties of the famous sandwich on freshly-baked baguettes. Options include a few kinds of meat, avocado, cheese and house-made chili paste. Morning Glory Original - Old Town has several good options for an upscale dining experience, but we found ourselves returning here again and again. The expansive menu offers an eclectic taste covering all of Vietnam, and it's safe to say that nothing on the menu disappoints in quality or presentation. Highlights include northern Vietnam classic bún chả (marinaded pork meatballs with rice noodles in a sweet broth) pork-stuffed squid and spicy crispy tofu.
- Accommodation in Central Vietnam
Hue Tam Tinh Vien Homestay – Ten minutes upriver from the center of Hue is this gem of a property dedicated not only to providing a superior stay to its guests, but also directly donating the proceeds to educating local children. The French-Vietnamese couple who own the place could not be more welcoming and informative, and also offer a superb degustation tasting menu of local specialties. Rooms are in separate structures, have large comfortable beds and modern bathrooms. Da Nang Brilliant Majestic Villa Hotel – East of the river on a leafy, suburban street is this pleasant mid-range hotel offering excellent value for the price just a few minutes walk from the beach. Rooms are modern, well-appointed and rates include a breakfast buffet with both continental and Vietnamese options. Traveler's Nest Hostel – In the lively An Thuong neighborhood is this clean and welcoming hostel with both dormitories and private rooms. The complimentary breakfast is cut above, with my quang and cao lau on offer. This hostel is within walking distance of the beach and many nightlife options. Hoi An Le Pavillon Hoi An Luxury Resort & Spa – just east of the old town, Le Pavillon offers an idyllic retreat with full resort convenience and services. The staff are hospitable, the rooms plush and modern, and the breakfast buffet has an excellent array of choices as well as an omelette bar. Full spa treatment is on offer and there is a large pool and lounge area.
- Central Vietnam - How to Prepare
It's perfectly natural to feel overwhelmed at the prospect of traveling to a new country. You may be unsure of everything from visas and local transportation to the local currency, SIM cards, and the language barrier. The good news? Vietnam is an easy place to travel after some basic planning. Entry and Visas In the past decade, Vietnam has really opened up to the outside world. Nearly everyone can easily gain entry. If you're from an ASEAN country, you're in luck: no visa required for a 30-day stay! Travelers from other countries can quickly obtain a cheap visa online on short notice. For those needing a visa, we recommend this efficient and professional online service: www.vietnam-visa.com Getting to Da Nang Traveling to Central Vietnam has become a simple endeavor, now that Da Nang has a modern international airport. There are direct flights from many cities in Southeast Asia, and several daily flights from Hanoi and Ho Chi Minh City, the two biggest transportation hubs in Vietnam. Local Transportation Once you have arrived in Da Nang, many opt to get around using Grab, which is cheap, safe and very convenient. In our experience, we have also found local taxi drivers to be honest and helpful. There are many options for traveling between Da Nang, Hoi An, and Hue. It is easy to arrange a comfortable inter-city bus service, and any place you stay will be happy to help make the arrangements. For those who prefer rail transport, Da Nang and Hue have train stations in their city centers. Although Hoi An does not have a station, it takes less than an hour to arrive from Da Nang by car or bus. Although you certainly do not need your own transportation while in Vietnam, we believe the most rewarding way to see the country is on a motorbike. It opens up the entire area to exploration and provides great memories. That said, driving in Vietnam is not for the faint-hearted. Drivers tend to be aggressive and many drivers are not very spatially aware. It is advisable to observe the driving techniques for a couple of days before joining in yourself. Always wear a helmet, don't be in a hurry and never assume you have the right of way. The general rule is smaller vehicles yield to larger ones. Once you get the hang of it, driving adds another adventure to your visit! Money Vietnam's currency is the đồng, and it is easy to make withdrawals from ATMs with an international bank card. Alternatively, you can exchange money at the airport, banks or jewelry stores. Strangely, the best exchange rates are offered at jewelry stores, where American dollars, euros or British pounds are preferred. Remember that soft currencies cannot be easily exchanged in Vietnam, so remember to trade up before leaving home. The approximate exchange rate is 1 USD ~ 23.000 VND. Communication You may want to consider bringing your phone and purchasing a SIM card when you arrive. They are cheap, have good coverage and make it a lot easier to travel independently. SIM cards and the internet have made travel immeasurably easier in recent years, and while some prefer to leave their phones at home, you will undoubtedly benefit from the convenience of being wired during your trip. The three primary wireless providers are Viettel, Mobifone, and Vinaphone. Of these three, Viettel is state-owned by the Vietnamese government and provides the best coverage. SIM cards can be bought at their respective carriers' stores and require a passport to activate. It is possible to buy a SIM card in the airport, but they are overpriced and offer inferior packages compared to those offered in a store in town. Additional phone credit and data can be purchased at many local shops where the carrier logo is displayed. Internet service in Vietnam has come a long way. Nearly all accommodation has WIFI, as do most cafes. Mid- and high-end hotels often offer high-speed service if you require a reliable connection. A lot of travelers worry about the difficulty of communicating in the Vietnamese language. To be fair, it is indeed a difficult language to learn. The easiest solution is to use Google Translate which eliminates much of the challenge of interacting with locals. Bring a phone with a translating tool and you'll be just fine. When to Visit Central Vietnam is far enough north from the Equator to effect a large seasonal change in temperature and rainfall. The hottest months are May through mid-September when the monsoon climate brings heavy rain through early December. The weather is ideal from mid-December through April. Although many avoid traveling here during the wet season, the temperature is pleasant and the rain is not constant. Also, accommodation prices are lower during this off-season period. What to Bring Vietnam has most things in stores you would expect to find where you live. As a general rule, try to avoid packing too many belongings, as you will likely bring back more than what you left with. Essentials include: Passport. Make sure it is valid at least six months beyond the duration of your stay. Comfortable clothes. Prepare for hot weather and rain. Comfortable footwear is important, both sandals for the beach and shoes for walking around. Hard currency. Bring dollars, euros or pounds to exchange even if you plan on using your bank card to withdraw money. There is always a chance your card doesn't work and you'll want a Plan B in case of banking issues. Phone. Having a local SIM card makes everything a lot easier, like making local calls, checking your email, accessing online banking, navigating a map or browsing the internet. Sunscreen and mosquito repellent. You can get them when you arrive, but it's one fewer thing to worry about if you've already brought them.
- Tips Liburan #2 Pentingnya Liburan Ala Orang Lokal
Seringkali kita temukan tips liburan soal tempat-tempat yang harus dikunjungi, makanan yang wajib dicicipi, sampai oleh-oleh yang bisa dibeli. Tapi apa kamu yakin tips-tips tersebut dibuat sesuai kacamata penduduk lokal? Kenapa sih ini jadi persoalan penting? Saat kita merencanakan liburan, tentunya kita mau benar-benar mengenal tempat yang kita tuju. Kamu yang mau ke Korea Selatan, tentunya ingin mencicipi masakan yang setiap hari dimasak oleh para umma untuk anak-anaknya, bukan masakan di restoran ala turis yang harganya mahal dan rasanya juga tidak otentik, karena sudah disesuaikan dengan lidah para pendatang. Bayangkan pergi ke Bandung tanpa pernah mencoba bakso yang benar-benar khas Kota Kembang, atau ke Bali tanpa tahu soal betutu. Sama halnya kalau kamu liburan ke Vietnam tanpa mencoba Bun Cha, karena kamu cuma tahu hidangan yang terkenal di kalangan turis, Pho. Padahal Bun Cha jauh lebih enak dan murah. Banyak yang berpikir, "Ah, biarin. Yang penting sama-sama hidangan Vietnam dan layak tampil di Instagram", tapi coba lihat contoh jalan-jalan ke Bandung tanpa bakso. Apa ini liburan yang kamu mau? Makanan, tempat, dan oleh-oleh yang didesain untuk turis, umumnya tidak mencerminkan tempat itu sendiri. Coba lihat kota tempat tinggalmu sendiri. Tempat-tempat yang ramai dikunjungi turis, apa populer juga di kalangan penduduk lokal? Sementara turis lokal dan internasional berbondong-bondong ke Pantai Kuta, mana ada orang Bali asli yang memilih untuk "liburan" ke Kuta? Mereka lebih memilih tempat-tempat di utara atau timur pulau Bali. Mereka justru menghindari Kuta karena kawasan ini bisa dibilang terlalu komersil, sama halnya dengan kawasan turis di tempat dan negara lain. Liburan ke kawasan-kawasan turis sudah biasa. Sudah banyak teman-teman dan anggota keluargamu yang pernah ke sana. Foto-foto dengan pose sama, angle sama, berjibun di media sosial. Kenapa pilih liburan yang itu-itu saja kalau kamu bisa dapat pengalaman liburan dari kacamata lokal alias bukan liburan biasa? How to bukan liburan biasa? Wajar sih kalau banyak yang memilih liburan yang itu-itu saja, karena lebih mudah dan tidak perlu banyak planning sebelumnya. Tapi, dengan sedikit usaha tambahan, kamu bisa dapat pengalaman yang lebih berharga. Ga ribet kok! Simak tipsnya berikut ini: Baca tips dari website lokal, bukan website khusus traveling. Waktu kamu cari info soal kegiatan liburan via internet, coba cari search result dari website lokal, bukan website traveling umum yang umumnya cari duit dari judul-judul clickbait. Cari saran dari penduduk lokal. Idealnya, kamu tanya langsung ke orang lokal. Bagusnya sih kalau kamu punya teman atau kenalan di sana. Atau, tanya ke orang-orang yang pernah menetap atau liburan lama di sana, seperti tim BuLiBi yang tinggal di satu kota minimal 3 (tiga) bulan. Cari tahu tim BuLiBi sudah pernah bukan liburan biasa kemana saja di halaman Kemana? Cari penginapan yang tidak biasa, seperti hostel dan homestay. Jenis penginapan ini biasanya dikelola oleh orang lokal yang siap membantu dengan tips liburan. Jangan tanya tempat wisata yang terkenal, tapi tanya tempat-tempat yang mereka sendiri sering kunjungi. Telusuri kota dan jangan takut untuk mengunjungi tempat baru. Saat sudah berada di kota atau negara tujuan, kamu bisa telusuri kota sendiri sambil lihat langsung tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang-orang lokal. Jangan takut bertanya dan masuk ke tempat-tempat baru. Asal kita sopan dan menghargai budaya lokal, mereka juga pasti menghargai usaha kita untuk mengenal cara hidup orang lokal. Siapa tahu, mereka juga ingin tahu soal cara hidup kita di Indonesia. Siap bukan liburan biasa? Kalau waktu liburan kamu singkat, jangan dijadikan alasan untuk tidak mencoba mengenal budaya setempat. Justru karena waktu yang singkat itulah, kamu harus memaksimalkan pengalaman liburan yang berhak kamu dapatkan. Kapan lagi bisa ke tempat itu? Misalnya kalau kamu cuma punya 2 (dua) hari di Bali, daripada ngubek-ngubek Kuta yang penuh turis atau Canggu yang sedang nge-hits, coba melipir sedikit ke Pantai Batubelig di antara Kuta dan Canggu. Pantainya sama-sama cantik, beach bar juga ada, tapi nuansanya lebih lokal dan asri. Jangan keukeuh mengunjungi tempat-tempat ramai turis yang dikenal banyak orang demi like dan share di media sosial. Yang paling penting adalah pengalaman liburan itu sendiri, apalagi kalau kamu liburan bareng orang-orang yang kamu sayang. You deserve better! Baca juga: Tips Liburan #1: Ke Negara Bebas Visa OK! SAYA SIAP COBA BUKAN LIBURAN BIASA! Cek tarif hotel dan harga tiket pesawat di sini: (c) BuLiBI
















